MENELUSURI Perjuangan panjang ibu tercinta dari Bung Michael Wattimena (BMW) Dra Aksamina Wattimena yang berjuang dampingi anak-anak tercinta, membesarkan dengan penuh kasih sayang. Bersama suami Librecht Frans Wattimena yang setia mendampinginya, namun ditengah perjalanan hidup suami Mami Aca jatuh sakit. Bersama tiga anak berjuang untuk kesembuhan sampai dibawah keluar negeri trjatnya Singapura.

Amun apa mau dikata waktu Tuhan dan Papi diambil dari susu istri, anak-anak dan keluarga besar Wattimena/Papilaya dan masyarakat Itawaka. Ditengah kemelut hidup itu, mami Aca panggilan karibnya tetap berjuang, berdoa minta Tuhan berikan umur panjang. Untuk terus jadi tiang doa bagi anak-anak, cucu dan keluarga besar Wattimena. Dan doa seorang janda dengan penuh ketulusan hati dijawab oleh Tuhan.
Membuat sampai kini beliau dengan penyertaan dari Tuhan selalu sehat dan kuat memasuki usia ke-82 tahun pada (30/04/26). Lebih lanjut kepada media ini orang tua yang selalu penuh keceriaan dan beri perhatian penuh bagi keluarga berbagi cerita. Semenjak masa hidupnya, dari lahir dibesarkan kedua orang tua dari bayi, usia anak berangsur remaja menuju dewasa penuh cinta kasih dan ia memiliki cita-cita sebagai seorang guru.

Keinginannya itu sangat mendapat restui dan dukungan kedua orang tua, hingga berkesempatan masuk pada Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Selesai lulus pada tahun 1967, langsung mengajar pada SD Noloth. Kala itu dinasehati orang tua sebagai seorang guru seng boleh biking yang tidak baik harus jujur mencintai adik-adik berbagi rasa dengan mereka.
Sampai saat ini Beta pegang janji itu itu dan terapkan kepada anak-anak hidup laeng sayang laeng, harus jujur dan penuh kasih bagi sesama. Dan pengajar selama dua tahun kemudian dipinang dan menikah dengan Librecht Frans Wattimena yang juga berstatus seorang guru. Bertugas lima tahun sebagai guru pada SD Negeri Noloth, dipindahkan ke kota Ambon pada SD Tanah Tinggi Ambon.

Kala itu menjadi guru kelas ajar semua bidang studi selama 10 tahun. Berbekal pengalaman pendidik ibu yang sampai kini masih cantik dan disiplin itu dipindahkan lagi ke SPG menjadi dosen PGSD Unpatti selama 19 tahun. Selain sebagai dosen, pengalaman hidupnya mendapat kesempatan mengajar diberbagai sekolah tingkatan SMA. Sebagai guru honor di SMA Kristen Urimeseng, SMA Ahmad Yani, SMA PGRI 1 Ambon.
Mami lanjut berceritanya tentang keluarga yang dicintai, bersama suami tercinta dikarunia lima orang anak, dua anak dipanggil Tuhan ( meninggal) tinggal tiga anak tertua perempuan Pendeta Henny Wattimena. Kedua Michael Wattimena yang kini diberkati Tuhan menjabat sebagai komisaris PT Pertamina Internasional Shipping dan juga staf Ahli Menteri ESDM. Dan ketiga Welem Seva Wattimena.

Kini Welem berada di Jakarta bersama dengan kakaknya, anak-anak Beta besarkan dengan penuh kasih sayang, tidak pernah membedakan kasih sayang diantara mereka. Hingga ketiganya dari kecil sampai dewasa sangat menyayangi satu sama lain. Saya sebagai orang tua tunggal, selalu ajarkan hidup harus berbagi dengan sesama dan harus selalu andalkan Tuhan dalam perjalanan hidup.
Tak ketinggalan ceritakan hidupnya bersama sang suami yang penuh sayang menyayangi selama hidup. Mami Aca ungkapkan ayah dari BMW dan kedua saudaranya itu seorang pendidik dengan status kepala sekolah. Selain itu oleh masyarakat negeri diangkat sebagai Raja Itawaka. Selama pimpin Negeri selalu mencintai masyarakatnya dan mereka juga sangat mencintai beliau.

Teringat berbagai acara kedinasan ke luar daerah selalu mami dibawa pada berbagai tempat di Indonesia. Begitu melekat rasa sayang kepada suaminya, disampaikan kala hidup tanpa suami sempat rasa tidak enak. Namun apa mau dikata rancangan Tuhan harus diterima. Tepat pada (22/09/2014) Tuhan mengambil papi dari katong pung hidup.
"Hingga kini jadi orang tua tunggal dampingi anak-anak dan cucu serta keluarga. Sangat merasakan suka cita dan damai sejahtera sebab katong selalu ada dalam doa dan cinta kasih. Dan Beta janji buat ketiga anak, hidup jangan untuk diri sendiri, harus selalu berbagi berkat kepada siapa yang membutuhkan tanpa peduli siapa dia. Sebab disitulah selalu ada jamahan Tuhan bagi Katong dan keluarga" tuturnya.


Diakhiri cerita hidup yang penuh keharmonisan itu, ibu guru Aksamina katakan harus pensiun sebagai seorang pengajar. Namun kecintaan pada dunia pendidikan terus terpancar dengan mendirikan Paud (KB) Tunas Leilisal yang berlokasi di Negeri Itawaka tempat asalnya. Sampai kini aktif sebagai pembina untuk mengasuh anak-anak usia dini di negeri tercintanya.
Untuk membentuk karakter mereka menuju sekolah tingkatan lebih tinggi, dikatakan sangat penuh sukacita bersama beberapa pengajar. Ajarkan untuk tidak boleh berbohong, saling menyapa orang tua dan teman-teman. Harus rajin belajar. Dan selalu berdoa agar menjadi anak yang berguna bagi Maluku dan negeri Itawaka

Saat media ini menyapa ketiga anak menyambut HUT Mami yang ke-82 tahun, jawaban mereka sangat penuh cinta kasih bagi Mami tersayang. Bersyukur 365 hari boleh Tuhan jaga dalam keadaan sehat dan Bung Michael Wattimena wakili kakak dan adik kami mau sampaikan I Love Mami yang selalu jadi tiang doa par katong.
Seng ada yang bisa tergantikan dari Katong pung hidup hanya mami seorang yang bisa jaga Katong sampai ada boleh ada dititik ini dengan kehidupan rumah tangga yang diberkati Tuhan. Selamat ulang tahun Mami ke-82 (30/04/44) kating anak cucu dan keluarga besar tetap minta Tuhan kasih mami umur panjang untuk terus jadi tiang doa.

(MB-01)
Sumber : https://malukubersatu.com/diusia-82-dra-aksamina-wattimena-masih-peduli-dunia-pendidikan-jadi-pengelola-b-tunas-leilisal-negeri-itawaka-detail-462685