Hilirisasi, Awaiya Bersiap Jadi Pusat Baru Ekonomi Kelapa dan Pala Di Bumi Maluku

Hilirisasi, Awaiya Bersiap Jadi Pusat Baru Ekonomi Kelapa dan Pala Di Bumi Maluku

Liang, Maluku Tengah,MalukuBersatu.Co,—Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, seorang pimpinan yang sangat luar biasa sangat berikan perhatian untuk kesejahteraan masyarakat. Hal itu terbukti  Transformasi besar sektor perkebunan Maluku resmi dimulai. Hamparan kebun kelapa dan pala di Desa Liang, Kecamatan Teluk Elpaputih, kini bersiap “naik kelas”. Seiring dimulainya proyek hilirisasi melalui peletakan batu pertama (groundbreaking), yang berlangsung pada Rabu (29/4).

img-1777534928.jpg

Momentum ini menjadi bagian dari groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap kedua yang dilaksanakan serentak di delapan wilayah Indonesia. Dan diikuti langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran pemerintah pusat dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Untuk wilayah Maluku, kegiatan dipusatkan di Desa Liang dan dihadiri Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Nefra Firdaus, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir.

Serta unsur Forkopimda, pimpinan OPD, hingga jajaran PT Perkebunan Nusantara I (Persero) Regional VIII Awaiya. Proyek ini menandai pergeseran penting: komoditas unggulan Maluku seperti kelapa dan pala tidak lagi hanya dijual dalam bentuk mentah. Tetapi mulai diolah untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi daerah. Gubernur Lewerissa menegaskan, hilirisasi bukan sekadar seremoni pembangunan. 

Melainkan langkah strategis dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis sumber daya lokal. “Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku, kami menyambut baik dimulainya hilirisasi kelapa dan pala ini sebagai bagian dari program nasional,” ujarnya. Beliau mengungkapkan, Maluku memiliki potensi besar dengan produksi kelapa yang telah melampaui 100 ribu ton.

Dan pala mencapai ribuan ton per tahun.Namun selama ini, sebagian besar hasil tersebut masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Melalui hilirisasi, lanjutnya, tidak hanya nilai jual yang meningkat, tetapi juga terbuka peluang industri pengolahan, kemitraan petani, hingga penciptaan lapangan kerja baru. Meski demikian, ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan sosial sebagai fondasi investasi.

“Iklim yang kondusif harus kita jaga bersama. Ini investasi untuk masa depan masyarakat Maluku,” tegasnya. Gubernur juga mengapresiasi Kementerian Pertanian dan PTPN yang telah memilih Maluku Tengah sebagai lokasi pengembangan industri, seraya mendorong sinergi lintas pemerintah agar proyek berjalan berkelanjutan dan memberi dampak nyata. Ia turut mengingatkan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton,.

Tetapi terlibat aktif dalam proses pembangunan dan menikmati manfaat ekonomi yang dihasilkan. Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menyoroti “paradoks kekayaan” yang selama ini terjadi di Maluku.(M-01)


Daerah yang kaya sumber daya alam justru belum sepenuhnya menikmati hasilnya.


“Kita kirim bahan mentah keluar, mereka olah, lalu kita beli kembali dengan harga mahal. Ini paradoks yang harus diakhiri,” ujarnya.


Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci untuk memutus rantai tersebut, sekaligus menjawab tantangan pengangguran dan kemiskinan.


“Kalau tenaga kerja terserap, pengangguran berkurang, dan masyarakat mulai punya harapan,” katanya.


Ia juga mengingatkan pihak perusahaan agar menjalankan tanggung jawab sosial (CSR) secara nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.


“Kalau sudah untung, jangan lupa masyarakat. CSR harus dirasakan, bukan sekadar laporan,” tegasnya.


Groundbreaking di Awaiya bukan sekadar dimulainya pembangunan industri, tetapi menjadi simbol perubahan arah pembangunan Maluku. Dari sekadar penyuplai bahan mentah, kini menuju pusat pengolahan yang memberi nilai tambah.


Awaiya pun perlahan bergerak menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi, tempat di mana kelapa dan pala tidak hanya tumbuh, tetapi diolah menjadi masa depan bagi masyarakat Maluku. ( Diskominfo Promal)

Sumber : https://malukubersatu.com/hilirisasi-awaiya-bersiap-jadi-pusat-baru-ekonomi-kelapa-dan-pala-di-bumi-maluku-detail-462707