Latuheru: Musik Tradisional  Harus Terus Hidup di Tangan Generasi Muda Sebagai Jati Diri Orang Maluku

Latuheru: Musik Tradisional Harus Terus Hidup di Tangan Generasi Muda Sebagai Jati Diri Orang Maluku

AMBON,MalukuBersatu.Com,-UPTD Museum Siwalima yang adalah perpanjangan tangan dari Dinas Pendidikan dan kebudayaan Propinsi Maluku. Ditahun ini kembali melakukan pelatihan belajar alat musik tradisional yang diperuntukan bagi para pelajar tingkat SD dan SMP.  Untuk berproses Museum Siwalima ambil pelatihan kurang lebih tiga orang mengajar para siswa yang berjumlah puluhan itu. Dan pelatihan berlangsung selama 15 hari di Museum Siwalima.

img-1794058420.jpg

"Diacara penutupan hari ini Sabtu (07/11/26)  wakili para pelatih, ibu Latuheru dalam kesan dan pesannya menuturkan. Kami berterimakasih kepada Plh Museum Siwalima Helga Sahetapi bersama para staf yang telah berikan  kesempatan untuk kami melatih penerus generasi Maluku terhadap alat musik tradisonal. Lanjutnya, warisan berupa musik tradisional  harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda", pintanya.

Agar warisan leluhur tidak hilang ditelan perkembangan zaman, kami berikan apresiasi kepada UPTD Museum Siwalima terhadap upaya pelestarian tersebut. Yang  dimulai melalui pengenalan dan pembelajaran alat musik tradisional sejak usia dini. Lanjutnya belajar bersama alat  musik tradisional berawal dari langkah kecil yang sederhana.

img-1794058499.jpg

Dirinya ceritakan, terlihat saat pertama anak-anak mengikuti pelatihan, sebagian masih merasa malu, ragu, bahkan takut karena harus berproses dan berinteraksi dengan banyak orang. Namun, melalui perjalanan latihan selama kurang lebih 15 hari, mereka telah menunjukkan perubahan yang luar biasa. Di tengah kesibukan bersekolah, tetap bersemangat, sepulang sekolah, meskipun tubuh sudah lelah, hadir untuk belajar memainkan alat musik tradisional.

Berbagai tantangan dihadapi, mulai dari jari-jari yang terasa sakit saat menggesek biola, tangan yang memerah, hingga kesulitan memainkan tifa dan totobuang. Tidak jarang nada yang dimainkan meleset dari irama sehingga latihan harus diulang berkali-kali dari awal. Meski terkadang merasa bosan, semangat mereka tidak surut. Justru dari proses tersebut tumbuh rasa percaya diri, kebersamaan, dan kemampuan untuk saling menyemangati.

img-1794058550.jpg

Lanjut  Latuheru, hal yang membanggakan bukan hanya bertambahnya kemampuan anak-anak dalam memainkan alat musik, tetapi juga terbentuknya sikap rendah hati, saling menghargai, serta belajar dengan penuh sukacita. Ia katakan  tema kegiatan tersebut memiliki makna mendalam tentang harmoni dan kolaborasi dalam musik tradisional Maluku.

Dawai menggambarkan suara ukulele dan biola yang mengalun lembut, sementara tabuhan tifa, totobuang, dan rebana menjaga irama agar tetap menyatu. Walaupun setiap alat musik memiliki bunyi berbeda, ketika dimainkan bersama akan melahirkan harmoni yang indah.Melalui latihan anak-anak belajar satu alat musik tidak akan menghasilkan keindahan tanpa kehadiran alat musik lainnya. Musik mengajarkan mereka untuk saling mendengar, saling menunggu, dan saling membantu.

img-1794058569.jpg

Kami mendampingi anak-anak dalam proses ini merupakan sebuah kehormatan. Menyaksikan bagaimana peserta awalnya dipenuhi rasa ragu akhirnya tumbuh menjadi lebih percaya diri. Dari bermain sendiri-sendiri hingga mampu tampil kompak sebagai satu kelompok. Untuk itu kami  mengungkapkan rasa syukur karena proses pembelajaran tersebut berlangsung di Museum Siwalima, tempat yang menyimpan sejarah dan jati diri masyarakat Maluku.

Diakhir komentarnya, dikatakan pelatih sampaikan tiga pesan penting,  Pertama, anak-anak diharapkan terus berlatih dan tidak malu memainkan musik tradisional Maluku. Dimana pun berada, sebab alat musik tradisional hanya akan tetap hidup jika terus dimainkan. Kedua, dukungan orang tua dan wali sangat dibutuhkan agar anak-anak dapat terus berlatih.

img-1794058619.jpg

Dapat mengembangkan kemampuan mereka, termasuk melalui latihan di rumah. Ketiga, pihaknya berharap, UPTD Museum Siwalima, sebagai perpanjangan tangan Pemerintah pada Dikbud Maluku. Terus mendukung kegiatan serupa agar menjangkau lebih banyak anak di Maluku. Atas nama para pelatih, Latuheru  menyampaikan terima kasih kepada Kepala UPTD Museum Siwalima, Ibu Helga Sahetapy, atas kepercayaan dan fasilitas yang diberikan.

Sehingga kegiatan pelatihan dapat terlaksana dengan baik dari awal sampai dengan berakhirnya pelatihan dihari ini. Ucapan terima kasih  disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Balai Pelestarian Kebudayaan. Atas dukungan dan kerja sama, termasuk kepada para orang tua dan wali yang setia mengantar dan mendampingi anak-anak selama proses latihan.

Apresiasi khusus diberikan kepada seluruh peserta yang telah berjuang dengan penuh semangat selama mengikuti kegiatan.  Meskipun harus menghadapi berbagai tantangan,  Latuheru berharap semangat yang telah tumbuh selama pelatihan tidak berhenti sampai kegiatan penutupan. Tetapi terus menjadi bagian dari perjalanan anak-anak dalam mencintai dan melestarikan kebudayaan Maluku.

img-1794058643.jpg

"Semoga damai, dawai dan tabuhan Siwalima terus bergema dari generasi ke generasi." Melalui kegiatan ini, pelestarian musik tradisional Maluku diharapkan semakin mendapat tempat di hati generasi muda. Agar  kekayaan budaya daerah yang menjadi jatindiri orang Maluku tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.(MB-01)

Sumber : https://malukubersatu.com/latuheru-musik-tradisional-harus-terus-hidup-di-tangan-generasi-muda-sebagai-jati-diri-orang-maluku-detail-465351