DPP Ispikani Maluku Blok Masela Anak Maluku Harus Miliki Skil Untuk Terjun Kesitu
Ambon,MalukuBersatu.Com,-Untuk memperkuat generasi muda Maluku menghadapi berbagai tantangan kedepan yang semakin kompleks. Kepada media ini Ketua Ispikani Maluku Gelar Dialog Proyek Djalaludin Salampessy menuturkan. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ispikani menggelar dialog tentang proyek strategis nasional Blok Masela. bersama generasi muda Ketua DPD Ispikani Jalaludin Salampessy mengajak mereka untuk menyiapkan diri agar bisa terlibat langsung di perusahaan raksasa tersebut.

Sementara dua narasumber menyoroti kesiapan pangan, perikanan, dan tantangan teknis proyek. Djalaludin mengatakan pertumbuhan ekonomi Maluku memang di atas rata-rata, sekitar lima persen dikarenakan tingkat kemiskinan masih tinggi. Menurutnya, Blok Masela adalah salah satu sumber daya yang ada di depan mata. Ia mengatakan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa terus berupaya agar proyek ini cepat memberi kontribusi.
Apalagi transfer keuangan daerah dari pusat kini lebih memprioritaskan belanja pegawai dan dana bagi hasil daerah masih rendah. Ia menegaskan generasi muda harus siap mengisi kebutuhan proyek. Kebutuhan itu mencakup tenaga las bawah laut, sopir truk dan operator alat berat, petugas keamanan serta kemampuan berbahasa asing itu yang sangat penting untuk jadi perhatian.

Proyek ini juga akan membutuhkan pasokan beras, jagung, umbi-umbian, sayur, dan ikan dalam jumlah besar. Ia mendorong anak muda membangun usaha kebun dan perikanan sendiri agar kebutuhan Blok Masela tidak dibeli dari daerah lain. Sekarang ini sudah saatnya anak muda Maluku berkarya dan tidak lagi sekadar memprotes dan protes. Sementara itu Akademisi kelautan dan perikanan Dr Haruna memaparkan hasil kajiannya tentang pasokan pangan, kapal penangkap ikan, dan rantai pasok.
Ia menilai sektor pangan lokal dan perikanan di Maluku masih lemah, begitu pula infrastruktur. Kawasan pengembangan industri di Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar menurutnya belum terlihat perkembangannya. Ia menyebut Inpex membutuhkan sekitar 1.500 pekerja pada tahap awal dan sekitar 700 pekerja pada tahap operasi. Dengan pasokan pangan yang harus terstandarisasi. Selama pangan lokal tidak terstandarisasi, kata dia, hasilnya tidak akan bisa dimanfaatkan.

Haruna mencontohkan kajiannya di Maluku Barat Daya. Sumber daya perikanan di sana melimpah, tetapi armada terbatas dan pasar bergantung pada kapal-kapal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang datang membeli. Ia juga menyinggung kemungkinan jalur pipa dari laut ke darat bersinggungan dengan alat tangkap nelayan dan jalur pelayaran menuju Australia. Jika itu terjadi, menurutnya perlu dibahas bentuk kompensasi, misalnya pelatihan budidaya atau peningkatan kapasitas armada.
Sedangkan, pemerhati lingkungan Dr Jusmy Putuhena menguraikan perjalanan panjang proyek ini. Menurutnya, eksplorasi dimulai sejak 1998 dan baru sekitar seperempat wilayah yang dieksplorasi sudah cukup untuk produksi sekitar 50 tahun. Amdal skema laut lepas (offshore) terbit pada 2013, lalu pemerintah memindahkan skema ke darat (onshore) setelah muncul penolakan dari masyarakat Maluku.

Ia berpendapat, tanpa penolakan itu, Maluku sudah bisa menikmati hasilnya lebih awal. Jusmy menjelaskan, pipa gas akan ditarik sekitar 178 kilometer menuju Lermatang di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, tempat kilang akan dibangun. Tantangan terbesarnya adalah palung laut yang menurutnya sedalam sekitar 6.000 meter, yang membuat proyek tertahan bertahun-tahun.
Disinggung soal tarik-menarik daerah soal hak partisipasi (participating interest) 10 persen, dan mempertanyakan kesiapan dana daerah untuk mengambilnya. (MB-01)
Indonesia
English
Belum Ada Komentar