ARTIKEL POPULER

Lailossa : Mengapa Maluku Tetap Bahagia Miliki Modal Sosial Pela Gandong, Ain ni Ain, masohi, maren & Budaya Kekeluargaan

Lailossa : Mengapa Maluku Tetap Bahagia Miliki Modal Sosial Pela Gandong, Ain ni Ain, masohi, maren & Budaya Kekeluargaan

Ambon,MalukuBersatu.Com,Kepala Bapeda Propinsi Maluku Anthon Lailossa, ungkapkan kenapa sampai kini Maluku tetap bahagia. Berdasarkan  data yang didapatkan Badan Pusat Statistik (BPS), Maluku berada pada urutan ke-3 provinsi paling bahagia se Indonesia. Lanjutnya ini merupakan fakta yang sangat  menarik. Sebab, jika dilihat dari berbagai indikator ekonomi seperti PDRB per kapita.img-1783817403.jpgMaupun persentase penduduk miskin, Maluku masih relatif tertinggal dibandingkan banyak provinsi lain. Lalu, mengapa masyarakat Maluku tetap memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi? Pertanyaan ini penting. Dengan memahaminya, kita dapat mengetahui aset-aset yang perlu dijaga agar masyarakat Maluku tetap hidup bahagia. Dan Perlu dipahami bahwa Indeks Kebahagiaan bukan sekadar ukuran kondisi ekonomi.

Indeks ini mengukur kesejahteraan subjektif, yaitu bagaimana masyarakat menilai kepuasan hidup, perasaan yang dialami, dan makna hidup yang mereka rasakan. Walaupun belum menjadi indikator utama dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional, indeks ini tetap memiliki dasar ilmiah yang kuat. BPS menyusunnya dengan mengacu pada pedoman internasional, seperti OECD Guidelines on Measuring Subjective Well-being.

img-1783817483.jpg

Sesuai dengan  rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta berbagai penelitian di bidang psikologi positif dan ekonomi kebahagiaan. Memang, ukuran ini bersifat subjektif karena berasal dari persepsi masyarakat, tetapi justru persepsi itulah yang menentukan apakah seseorang merasa hidupnya bahagia atau tidak. Lalu, apa yang menjadi kekuatan Maluku?

Jawabannya terletak pada modal sosial yang masih sangat kuat, kebiasaan berkumpul sebagai keluarga besar dan juga nilai-nilai seperti.  Pela gandong, Ain ni Ain, masohi, maren, dan budaya kekeluargaan menciptakan kohesi sosial yang tinggi. Masyarakat tidak hidup secara individualistis; beban hidup sering kali dipikul bersama. Rasa saling memiliki dan saling menolong menjadi sumber kekuatan yang tidak mudah diukur dengan angka ekonomi.

Selain itu, kehidupan spiritual yang masih kuat memberi makna dalam kehidupan. Kualitas lingkungan yang relatif masih terjaga, serta keseimbangan hidup yang lebih baik. Dikarena tekanan dan kompetisi yang tidak seintens kota-kota metropolitan, turut membentuk persepsi masyarakat tentang kebahagiaan. Dengan kata lain, Maluku masih dikaruniai berbagai aset sosial, budaya, spiritual, dan lingkungan yang sangat berharga. Aset-aset inilah yang ikut menjaga kualitas hidup masyarakat, meskipun tantangan ekonomi masih ada.

img-1783817503.jpg

Tentu saja, hal ini bukan berarti pembangunan ekonomi tidak penting. Justru tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Tanpa kehilangan modal sosial dan budaya yang selama ini menjadi kekuatan Maluku. Karena itu, mari kita menjaga dan merawat aset-aset tersebut. Sebab, kebahagiaan tidak hanya lahir dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kuatnya persaudaraan, makna hidup, dan lingkungan yang sehat.

Mari kita sama-sama menjaga aset yang membuat masyarakat Maluku tetap bahagia. Itu semua harapan dari orang Maluku par Maluku pung bae Horomate.(MB-01


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

ARTIKEL SERBA --SERBI

Lorem Ipsum is simply dummy text of ...

Nisa Rahmawati

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Steven

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Micky Zack

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Clara Pedirica
Kategori