LKLB Jadi Penyemangat Pemprov & Institut Leimena Gelar Seminar Di Bumi Raja-raja
Ambon,MalukuBersatu.Com,- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku yang merupakan perpanjangan tangan dari Pemerintah Maluku. Bersama Institut Leimena bekerja sama dengan Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB Sitanala. Adalagi Yayasan Sombar Negeri Maluku, dan didukung Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, serta Sasakawa Peace Foundation.

Pada Kamis (12/02)26) mengelar seminar angkat inisiatif dan praktik pendidikan damai di Maluku dengan pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Seminar bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)” dibuka Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie.
Dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho. Serta peserta lainnya. Dikesempatan itu Sekretaris Daerah, sampaikan sambutan Gubernur Provinsi Maluku, Hendrik Lewerissa. Yang menyatakan, Maluku memiliki warisan leluhur luar biasa yaitu semangat hidup "Orang Basudara" sebagai penguatan jati diri.

Hingga perbedaan agama dan suku seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan perekat hubungan orang basudara. "Lanjutnya, tantangan zaman menuntut kita tidak sekadar hidup berdampingan tetapi harus saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain", tuturnya. Disinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya sebagai kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah menuturkan. Kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Maluku bersama Institut Leimena akan semakin memperkuat posisi pendidikan sebagai instrumen strategis untuk bangun kohesi sosial di Maluku.

"Lanjutnya, situasi kemajemukan di Maluku yang terdiri dari 283 sekolah multikomunitas agama, ditambah sejarah konflik sosial berbasis identitas. Dan realitas kepulauan yang majemuk, semakin menunjukkan pentingnya pemahaman tentang LKLB. Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya", tuturnya.
Termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi dan dalam seminar yang diadakan di Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Saat ini dihadiri oleh sekitar 150 guru dan kepala sekolah dari berbagai wilayah di Maluku. Kami berharap komitmen Maluku sebagai laboratorium hidup Orang Basudara bisa terwujud dengan menyebarkan contoh atau praktik baik yang sudah dilakukan para guru alumni LKLB di Maluku.

Program LKLB secara nasional telah diadakan lebih dari empat tahun sejak 2021, sedangkan khusus di Maluku diadakan Program LKLB untuk Perdamaian. Telah berlangsung selama dua tahun dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah. “Kami ingin terus bagikan contoh praktik LKLB yang dapat diadaptasi di sekolah. Dan dorong upaya integrasi LKLB ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” jelas Singerin.
Ditempat yang sama, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan, Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama. Yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.

“Kita mulai diakhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB. Dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan,” kata Matius Ho. Beliau sebutkan Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional. Sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial.
"Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN. Hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif, bulan November kemarin. Delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon. Sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon", tuturnya.
“untuk itu kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkrit, karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia. Tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” kata Matius. Lanjutnya khusus di Ambon, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat. Yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi, membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai “UNESCO City of Music”.

Dalam seminar hari ini juga dihadirkan penampilan 16 guru alumni LKLB beragama Islam dan Kristen yang menyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, yakni lagu berbahasa Maluku bertemakan perdamaian. Semua yang pemerintah lakukan tujuannya hanya para Maluku pung Bae.(MB-01)
Indonesia
English
Belum Ada Komentar