ARTIKEL POPULER

Singerin : Peluncuran PGRI Power Harus Jadi Gerakan Berkelanjutan  Melatih Trainer Disetiap Kabupaten/Kota

Singerin : Peluncuran PGRI Power Harus Jadi Gerakan Berkelanjutan Melatih Trainer Disetiap Kabupaten/Kota


AMBON,MALUKUBERSATU.COM,—Dengan semakin maraknya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dengan demikian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd menyatakan. Dirinya  mendorong para guru di Maluku untuk tidak takut menghadapi perkembangan teknologi dalam bentuk apapun.  Ketegasan tersebut disampaikan  dalam sambutannya pada peluncuran PGRI Power yang berlangsung di Aula Kantor Dikbud, Rabu (16/9/2026).

img-1789626892.jpg

Lebih lanjut pimpinan pertama ditubuh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan,  perkembangan teknologi harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Yang mana harus kuat dan terintegrasi, mulai dari pendidikan anak usia dini, TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Pada pertemuan yang penuh keakraban itu, beliau  menyampaikan apresiasi dan dukungan Pemerintah Provinsi Maluku terhadap PGRI yang mengambil bagian dalam gerakan nasional.

PGRI Power secara nasional menargetkan 1 juta guru terlatih, 50 ribu sekolah terlibat, 10 ribu trainer nasional, 3 juta media pembelajaran digital, serta 10 juta proyek teknologi siswa Indonesia. "Gerakan ini bukan sekadar gerakan pelatihan, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk mempercepat transformasi pendidikan Indonesia di era digitalisasi," ujar Singerin. Sebutnya,  berdasarkan data Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Maluku, terdapat sekitar 51.775 guru dan tenaga kependidikan. 

img-1789626910.jpg

Yang melayani lebih dari 448 ribu peserta didik pada sekitar 5.154 satuan pendidikan di Maluku. Jumlah tersebut, katanya, merupakan kekuatan besar yang harus digerakkan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan dibumi Maluku. Untuk itu Kadis menegaskan, guru tidak boleh menjadi penonton dalam revolusi teknologi. Harus menjadi pelaku, pengarah sekaligus penjaga nilai dalam proses transformasi digital yang sekarang ini sudah super canggih..

Ia juga mengingatkan guru agar tidak mengandalkan AI secara mentah pada setiap proses pembelajaran. Setiap informasi yang diberikan AI tetap harus dibandingkan dengan buku, pustaka dan sumber referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. "AI bukan pengganti guru, itu adalah alat bantu hingga  guru tetap menjadi manusia yang manusiawi," tegasnya. Dikatakan, teknologi dapat membantu menjawab pertanyaan, membuat materi dan menganalisis data.

img-1789626934.jpg

Namun, guru tetap memiliki peran penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai serta memahami kebutuhan peserta didik. Dengan semakin berkembang teknologi, semakin penting pula kualitas kemanusiaan seorang guru. Hingga dirinya mendorong guru untuk mempelajari coding. Karena  bukan semata-mata belajar bahasa pemrograman, tetapi juga melatih cara berpikir logis, sistematis, terstruktur dan kreatif.

Penguasaan coding diharapkan dapat membantu guru mengembangkan pembelajaran berbasis masalah, proyek, eksplorasi dan kreativitas. "Jangan mengatakan coding hanya milik guru informatika, jangan mengatakan teknologi hanya untuk sekolah yang berada di kota," katanya. Untuk itu diharapkan teknologi dibawa sedekat mungkin dengan anak-anak di pulau-pulau kecil, wilayah terluar, terpencil dan tertinggal.

Sebab kita ketahui bersama kondisi geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan pendidikan berbasis teknologi. Dengan demikian, transformasi digital harus dimanfaatkan sebagai strategi untuk memperkecil kesenjangan layanan pendidikan antarpulau. "Jangan biarkan jarak antar pulau menjadi jarak dalam kualitas pendidikan. Pengetahuan harus menembus pulau-pulau, guru harus menjadi jembatan," tandas Sarlota.

img-1789627191.jpg

Sarlota berharap,  PGRI Power tidak berhenti pada kegiatan peluncuran, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan dengan melatih trainer di setiap kabupaten/kota, kemudian memperluasnya hingga kecamatan dan sekolah. Konsep yang didorong adalah satu guru mahir, 10 guru belajar, 100 guru bergerak, sekolah bertransformasi, kabupaten dan kota bergerak menuju Maluku yang lebih maju dalam pendidikan. Ia juga mengajak para guru untuk terus belajar tanpa menjadikan usia maupun jarak sebagai penghalang dalam menguasai teknologi.

"Guru sejati adalah pembelajar sepanjang hayat. Hari ini kita belajar, besok kita mencoba, lusa kita berbagi, kemudian seluruh sekolah akan bergerak," ujarnya. Sarlota menegaskan, transformasi pendidikan berbasis teknologi harus menjangkau seluruh wilayah Maluku sehingga anak-anak di pulau kecil memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya dan berinovasi."Guru berubah, pembelajaran berubah. Kalau pembelajaran berubah, anak-anak berubah. Kalau anak-anak berubah, masa depan Maluku berubah," pungkasnya.

img-1789627207.jpg

(**)


Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

ARTIKEL SERBA --SERBI

Lorem Ipsum is simply dummy text of ...

Nisa Rahmawati

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Steven

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Micky Zack

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the ...

Clara Pedirica
Kategori