Diusia 82, Dra Aksamina Wattimena Masih Peduli Dunia Pendidikan Jadi Pengelola (ĶB)Tunas Leilisal Negeri Itawaka
MENELUSURI Perjuangan panjang ibu tercinta dari Bung Michael Wattimena (BMW) yang berjuang dampingi anak-anak tercinta, membesarkan dengan penuh kasih sayang. Bersama suami Librecht Frans Wattimena yang setia mendampinginya, namun ditengah perjalanan hidup Tuhan mengambil sang suami tercinta dari sisi Mami dan anak-anak karena sakit. Ditengah kemelut hidup itu, mami Aca panggilan karibnya tetap berjuang, berdoa minta Tuhan berikan umur panjang untuk terus jadi tiang doa bagi anak-anak, cucu dan keluarga besar Wattimena/Papilaya.

Dan doa yang penuh ketulusan hati, serta pengharapan itu membuat sampai kini beliau dengan penyertaan dari Tuhan selalu sehat dan kuat memasuki usia ke 82 tahun pada (30/04/26). Lebih lanjut kepada media ini orang tua yang selalu penuh keceriaan dan beri perhatian penuh bagi keluarga berbagi cerita. Semenjak masa hidupnya, lahir (30/09/44) dipelihara kedua orang tua mulai dari bayi, usia anak berangsur remaja menuju dewasa memilih cita-cita sebagai seorang guru.
Keinginannya itu sangat mendapat dukungan kedua orang tua, untuk menggapai cita-cita pada Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Selesai lulus pada tahun 1967, mulai mengajar pada SD Noloth. Kala itu dinasehati orang tua sebagai seorang guru seng boleh biking yang tidak baik harus jujur mencintai adik-adik berbagi rasa dengan mereka. Sampai saat ini Beta pegang janji itu ran Beta terapjan kepada anak-anak untuk harus jujur dan hidup penuh kasih.

Beta berprofesi sebagai seorang pengajar selama dua tahun kemudian dipinang dan menikah dengan Librecht Frans Wattimena yang juga berstatus seorang guru. Dan Bertugas lima tahun sebagai guru pada SD Noloth, dipindahkan ke kota Ambon pada SD Tanah Tinggi Ambon. Kala itu menjadi guru kelas ajar semua bidang studi selama 10 tahun. Berbekal pengalaman pendidik ibu yang sampai kini masih cantik dan disiplin itu dipindahkan lagi ke SPG menjadi dosen PGSD Unpatti selama 19 tahun.
Selain sebagai dosen, pengalaman hidupnya mendapat kesempatan mengajar diberbagai sekolah tingkatan SMA. Antara lain sebagai guru honor di SMA Kristen Urimeseng, SMA Ahmad Yani, SMA PGRI 1 Ambon. Mami lanjut bercerita tentang keluarganya, bersama suami tercinta dikarunia lima orang anak, dua anak dipanggil Tuhan ( meninggal) tinggal tiga anak tertua perempuan Pendeta Henny Wattimena.

Kedua Michael Wattimena yang kini diberkati Tuhan menjabat sebagai komisaris PT Pertamina Internasional Shipping dan juga staf Ahli Menteri ESDM. Dan ketiga Welem Seva Wattimena, kini berada di Jakarta bersama dengan kakaknya. Anak-anak Beta besarkan dengan penuh kasih sayang, tidak pernah membedakan kasih sayang diantara mereka. Hingga ketiganya dari kecil sampai dewasa sangat menyayangi satu sama lain.
Saya sebagai orang tua tunggal, selalu ajarkan hidup harus berbagi dengan sesama dan harus selalu andalkan Tuhan dalam perjalanan hidup. Sembari ceritakan hidupnya bersama sang suami yang penuh sayang menyayangi, mami ungkapkan ayah dari BMW. Seorang pendidik dengan status kepala sekolah dan oleh masyarakat negeri diangkat sebagai Raja Itawaka. Selama pimpin Negeri selalu mencintai masyarakatnya dan mereka juga sangat mencintai beliau.

Teringat berbagai acara kedinasan ke luar daerah selalu mami dibawa pada berbagai tugas yang ada di Indonesia. Begitu melekat rasa sayang kepada suaminya, disampaikan kala suami sakit, Beta dan ketiga anak berusaha untuk peroleh kesembuhan. Dibawa berobat sampai keluar negeri tepatnya Singapura. Namun apa mau dikata ajal datang menjemput tidak ada seorangpun dapat mengelaknya. Tepat pada (08/04/2014) Tuhan mengambil papi dari katong pung hidup.
"Hingga kini jadi orang tua tunggal dampingi anak-anak dan cucu serta keluarga. Sangat merasakan suka cita dan damai sejahtera sebab katong selalu ada dalam cinta kasih. Dan Beta janji buat ketiga anak, hidup jangan untuk diri sendiri, harus selalu berbagi berkat kepada siapa yang membutuhkan tanpa peduli siapa dia. Sebab disitulah selalu ada jamahan Tuhan bagi Katong dan keluarga" tuturnya akhiri cerita hidup yang penuh keharmonisan.


Selesai pensiun tetap berpihak pada dunia pendidikan dengan mendirikan Paud (KB) Tunas Leilisal yang berlokasi di Negeri Itawaka tempat asalnya. Sampai kini masih aktif sebagai pembina untuk mengasuh anak-anak usia dini membentuk karakter mereka menuju sekolah tingkatan lebih tinggi. Dan dikatakan sangat penuh sukacita bersama mereka, ajarkan untuk tidak boleh berbohong, saling menyapa orang tua dan teman-teman. Harus jujur dan selalu berdoa.

Saat media ini menyapa ketiga anak menyambut HUT Mami yang ke-82 tahun, jawaban mereka sangat bersyukur 365 hari boleh Tuhan jaga dalam keadaan sehat. Dan kakak perempuan tertua ibu Pendeta Henny sampaikan, wakili kedua adik kami mau sampaikan I Love Mami yang selalu jadi tiang doa par katong. Seng ada yang bisa tergantikan hanya seorang yang bisa jaga Katong sampai ada saat ini dengan kehidupan rumah tangga yang diberikati Tuhan.

(MB-01)
Indonesia
English
Belum Ada Komentar